
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 berpotensi memiliki karakteristik yang lebih kering dibandingkan dengan rata-rata kondisi dalam 30 tahun terakhir. Selain itu, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan akan datang lebih awal serta berlangsung dalam durasi yang lebih panjang. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi berbagai sektor, terutama pertanian, sumber daya air, dan mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menjelaskan bahwa istilah “lebih kering” merujuk pada kondisi curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis jangka panjang. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan berarti menjadi musim kemarau paling ekstrem dalam tiga dekade terakhir, melainkan relatif lebih kering dibandingkan pola normal. “Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun,” ujarnya dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 di Jakarta, Selasa (14/4).
BMKG juga mengingatkan bahwa datangnya musim kemarau yang lebih awal dapat memengaruhi pola tanam serta ketersediaan air di sejumlah wilayah. Sementara itu, durasi kemarau yang lebih panjang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap curah hujan. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi sejak dini untuk meminimalisasi dampak yang mungkin timbul.
Sejumlah sektor diharapkan dapat melakukan penyesuaian terhadap prakiraan ini, termasuk sektor pertanian yang perlu mengatur kembali jadwal tanam dan pemilihan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Selain itu, pengelolaan sumber daya air juga menjadi krusial untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat tetap terjaga selama periode kemarau berlangsung.
BMKG mengimbau masyarakat serta pemangku kepentingan untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim secara berkala. Dengan kesiapsiagaan yang baik, potensi dampak dari musim kemarau yang lebih kering dan panjang ini diharapkan dapat diminimalisasi, sehingga aktivitas masyarakat dan sektor ekonomi tetap dapat berjalan dengan optimal.









