
Tradisi Ngerebong yang dilaksanakan di Pura Agung Petilan, Kesiman, Denpasar Timur, kembali menjadi penegas kuat bahwa warisan adat dan spiritual Bali masih hidup dan dijalankan secara konsisten oleh masyarakat pendukungnya. Upacara sakral ini bukan sekadar peristiwa ritual tahunan, melainkan bagian integral dari sistem kepercayaan Hindu Bali yang bertujuan menjaga keseimbangan antara alam semesta, manusia, dan dunia niskala. Ngerebong dilaksanakan dengan rangkaian prosesi yang sarat makna simbolik, melibatkan pemangku, krama desa, serta unsur adat yang menjalankan perannya masing-masing sesuai pakem warisan leluhur. Di tengah modernisasi dan dinamika kehidupan perkotaan, pelaksanaan Ngerebong di wilayah Kesiman menunjukkan bahwa nilai-nilai sakral tetap menjadi fondasi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Bali.
Secara filosofis, Tradisi Ngerebong berakar pada konsep keseimbangan kosmis atau Rwa Bhineda, yakni harmonisasi antara dua kekuatan yang saling berlawanan namun saling melengkapi. Dalam prosesi upacara, masyarakat menyakini terjadinya pertemuan dan penyatuan energi sekala dan niskala sebagai bagian dari upaya menetralkan kekuatan negatif yang berpotensi mengganggu keharmonisan kehidupan. Prosesi inti Ngerebong dikenal dengan kondisi kerauhan atau trans yang dialami sejumlah peserta upacara, sebagai simbol turunnya kekuatan spiritual untuk menyucikan alam dan manusia. Fenomena ini bukan dimaknai sebagai tontonan, melainkan sebagai wujud pengabdian spiritual yang dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab adat. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan dengan disiplin tinggi, dipandu oleh pemangku dan tetua adat, serta diawali dengan persiapan upakara yang kompleks dan sakral. Keberlangsungan tradisi ini mencerminkan kuatnya sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun dan dijaga melalui ikatan adat yang masih kokoh.
Pelaksanaan Tradisi Ngerebong juga menjadi cermin kuatnya solidaritas sosial masyarakat adat Kesiman. Seluruh krama desa terlibat aktif, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga penutupan upacara. Setiap unsur masyarakat memiliki peran yang jelas, baik dalam konteks ritual, pengamanan adat, maupun pengaturan lingkungan sekitar pura. Keterlibatan generasi muda menjadi aspek penting dalam menjaga kesinambungan tradisi ini. Anak-anak dan remaja desa adat tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga dilibatkan secara aktif agar memahami nilai filosofis dan spiritual yang terkandung dalam Ngerebong. Proses pewarisan nilai ini berlangsung secara alami melalui praktik langsung, bukan sekadar pembelajaran teoritis. Dengan cara tersebut, tradisi tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, melainkan terus bertransformasi sebagai identitas hidup masyarakat Kesiman di tengah perubahan zaman.
Dari perspektif kebudayaan Bali secara lebih luas, Tradisi Ngerebong memiliki posisi penting sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang memperkaya khazanah ritual Hindu Bali. Keunikan prosesi, kedalaman makna spiritual, serta konsistensi pelaksanaannya menjadikan Ngerebong sebagai salah satu tradisi sakral yang tetap terjaga kemurniannya. Pemerhati budaya menilai bahwa keberhasilan masyarakat Kesiman mempertahankan Ngerebong tidak terlepas dari kuatnya struktur desa adat, kepatuhan terhadap awig-awig, serta kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual. Di tengah arus globalisasi dan pariwisata massal, Ngerebong tetap ditempatkan sebagai ritual suci yang tidak dikomodifikasi. Masyarakat adat menegaskan bahwa nilai utama upacara ini adalah pengabdian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bukan atraksi budaya untuk konsumsi publik semata.
Keberlangsungan Tradisi Ngerebong di Pura Agung Petilan hingga saat ini menjadi bukti nyata bahwa adat dan spiritualitas Bali bukanlah warisan statis, melainkan sistem nilai yang terus hidup dan relevan. Upacara ini menegaskan hubungan erat antara manusia, alam, dan dimensi spiritual yang menjadi inti filosofi hidup masyarakat Bali. Di tengah tantangan modernitas, urbanisasi, dan perubahan sosial, masyarakat Kesiman menunjukkan bahwa pelestarian tradisi bukanlah penghambat kemajuan, melainkan fondasi moral dan spiritual yang memperkuat identitas kolektif. Tradisi Ngerebong tidak hanya menjaga keseimbangan kosmis, tetapi juga menjaga kesinambungan jati diri Bali sebagai peradaban yang menjunjung tinggi harmoni, kesucian, dan kebersamaan. Dengan komitmen adat yang terus dijaga lintas generasi, Ngerebong tetap berdiri sebagai simbol kuat warisan sakral Bali yang tidak lekang oleh waktu.









