
Badan Usaha Milik Negara PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) mencatat kinerja perhotelan di kawasan pariwisata premium The Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, tetap menunjukkan tren positif sepanjang 2025. ITDC melaporkan tingkat hunian atau okupansi hotel di kawasan yang dikelolanya mencapai rata-rata 76,93 persen selama 2025. Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyampaikan capaian tersebut diraih di tengah sejumlah tantangan eksternal yang turut memengaruhi dinamika industri pariwisata nasional. “Capaian itu diraih di tengah tantangan eksternal,” kata Ahmad Fajar melalui keterangan yang diterima di Denpasar, Bali, Sabtu (17/1). Menurutnya, angka okupansi tersebut mencerminkan daya tahan kawasan The Nusa Dua sebagai destinasi yang memiliki infrastruktur pariwisata terintegrasi, standar layanan yang konsisten, serta ekosistem industri yang relatif stabil dibandingkan kawasan lain. Meski demikian, ITDC juga mencatat adanya perlambatan bila dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya, terutama terkait perubahan pola kunjungan dan kontribusi segmen tertentu terhadap okupansi hotel. Di tengah persaingan destinasi dan perubahan tren perjalanan global, capaian okupansi di atas 70 persen dinilai tetap menjadi indikator kuat bahwa permintaan terhadap layanan akomodasi di kawasan premium Bali masih tinggi.
Ahmad Fajar menjelaskan, tingkat okupansi perhotelan The Nusa Dua pada 2025 tercatat masih tumbuh membaik dan bertahan pada level yang sehat, meskipun mengalami pelandaian bila dibandingkan dengan 2024. Ia menyebut angka okupansi 2024 berada pada kisaran 76,56 persen, sehingga kinerja 2025 tetap dapat dikategorikan stabil dengan kecenderungan positif. Di balik angka tersebut, ITDC menyoroti adanya tantangan eksternal pada awal 2025, terutama penurunan perjalanan dinas serta melemahnya aktivitas konferensi, pertemuan, insentif, dan pameran atau segmen MICE (Meetings, Incentives, Conventions, Exhibitions). Penurunan ini disebut sejalan dengan kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Pusat yang berdampak pada frekuensi kegiatan rapat dan perjalanan kerja instansi pemerintah. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pola pemesanan hotel, terutama pada periode-periode yang sebelumnya banyak ditopang oleh agenda MICE berskala nasional. Meskipun demikian, ITDC menilai kawasan The Nusa Dua mampu menjaga performa melalui strategi penguatan pasar wisatawan rekreasi, promosi paket perjalanan, serta optimalisasi kalender event untuk mempertahankan tingkat hunian tetap kompetitif.
Selain kinerja okupansi, ITDC juga mencatat peningkatan signifikan pada tingkat kunjungan wisatawan ke kawasan The Nusa Dua sepanjang 2025. Total kunjungan wisatawan dilaporkan mencapai 3,8 juta pada 2025, meningkat 18,5 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 3,2 juta. Peningkatan kunjungan ini menunjukkan bahwa The Nusa Dua tetap menjadi magnet utama bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang mencari pengalaman berwisata di kawasan dengan tata kelola terintegrasi dan standar keamanan serta kebersihan yang tinggi. Pertumbuhan kunjungan tersebut turut memberikan efek ganda bagi industri pendukung di sekitar kawasan, mulai dari restoran, pusat belanja, transportasi, hingga pelaku UMKM yang bergerak di sektor pariwisata. ITDC memandang kenaikan kunjungan wisatawan sebagai sinyal positif yang memperkuat keyakinan bahwa permintaan pariwisata Bali, khususnya pada segmen premium, masih berada pada jalur pertumbuhan meski dihadapkan pada dinamika ekonomi dan kebijakan anggaran.
ITDC menegaskan akan terus memperkuat strategi pengelolaan kawasan untuk menjaga daya saing The Nusa Dua dalam jangka panjang. Upaya yang dilakukan mencakup peningkatan kualitas layanan, penguatan promosi berbasis pasar prioritas, serta optimalisasi penyelenggaraan event untuk menutup potensi penurunan dari segmen tertentu. Di saat yang sama, ITDC juga menilai pentingnya adaptasi terhadap perubahan tren perjalanan, termasuk meningkatnya wisata berbasis pengalaman, wisata keluarga, dan kebutuhan fasilitas yang mendukung kegiatan kerja jarak jauh serta perjalanan kombinasi bisnis dan rekreasi. Dengan mempertahankan okupansi di level tinggi dan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, ITDC optimistis kawasan The Nusa Dua dapat terus tumbuh sebagai salah satu pusat pariwisata premium Indonesia yang mampu bersaing di tingkat regional maupun global.
Ke depan, ITDC berharap dukungan lintas pihak—mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga komunitas lokal—dapat terus diperkuat agar pertumbuhan pariwisata di Bali berjalan seimbang antara kualitas layanan, keberlanjutan lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Capaian okupansi rata-rata 76,93 persen dan peningkatan kunjungan wisatawan hingga 3,8 juta sepanjang 2025 menjadi indikator penting bahwa pemulihan dan penguatan pariwisata masih terus berlangsung, sekaligus menjadi pijakan bagi strategi pengembangan kawasan pada tahun-tahun berikutnya.









