BMKG Bali Imbau Waspada Potensi Bencana Hidrometeorologi di Musim Hujan 2025/2026

banner 468x60

Memasuki musim hujan periode 2025/2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali mengingatkan pemerintah daerah serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang diprediksi meningkat di sejumlah wilayah di Pulau Dewata.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan potensi bencana hidrometeorologi,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, di Denpasar, Selasa (4/11).

Menurutnya, bencana hidrometeorologi mencakup ancaman banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga angin kencang, terutama di wilayah dengan topografi curam dan sistem drainase yang belum optimal. Daerah-daerah yang berisiko tinggi meliputi kawasan perbukitan di Bangli, Buleleng, dan Tabanan, serta kawasan padat penduduk di Denpasar dan Badung yang rawan genangan akibat meluapnya aliran sungai.

BMKG menjelaskan bahwa intensitas curah hujan di Bali mulai meningkat sejak awal November 2025 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember 2025 hingga Februari 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena La Niña lemah dan suhu muka laut yang hangat di perairan selatan Indonesia, yang memicu peningkatan penguapan dan pembentukan awan hujan.

Aminudin menegaskan bahwa potensi hujan deras disertai angin kencang perlu diantisipasi sejak dini, terutama oleh masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai dan lereng perbukitan. “Kami mengimbau masyarakat agar mulai membersihkan saluran air, memperkuat tebing tanah di sekitar rumah, dan selalu memantau perkembangan cuaca dari kanal resmi BMKG,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan di tingkat desa dan kelurahan dengan membentuk posko siaga bencana serta memastikan alat peringatan dini (early warning system) berfungsi dengan baik. Kolaborasi antara BPBD, Dinas PU, dan aparat desa adat diharapkan mampu mempercepat respon ketika terjadi hujan ekstrem yang berpotensi menyebabkan kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa.

Selain itu, BMKG Bali mengimbau nelayan dan masyarakat pesisir untuk waspada terhadap tinggi gelombang laut yang berpotensi meningkat selama musim hujan. Aktivitas pelayaran dan wisata bahari di kawasan seperti Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, dan perairan selatan Bali diharapkan memperhatikan informasi prakiraan cuaca harian.

“Langkah preventif sederhana seperti tidak membuang sampah ke saluran air dan menjaga resapan tanah di sekitar rumah sangat membantu mengurangi risiko banjir,” tambah Aminudin.

Dengan meningkatnya potensi hujan ekstrem di Bali, BMKG juga akan memperkuat sistem pemantauan curah hujan otomatis (ARR) dan radar cuaca di beberapa titik strategis, seperti Denpasar, Bedugul, dan Singaraja, guna memberikan peringatan dini lebih cepat dan akurat kepada masyarakat.

Masyarakat diimbau untuk mengikuti pembaruan informasi melalui kanal resmi BMKG, baik situs web, media sosial, maupun aplikasi InfoBMKG, agar dapat mengetahui kondisi cuaca terkini sebelum melakukan aktivitas luar ruangan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *