Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, khususnya Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, setelah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Laut Filipina, Jumat (10/10). Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan di Jakarta menjelaskan bahwa episenter gempa terletak pada koordinat 7,23° Lintang Utara dan 126,83° Bujur Timur, atau sekitar 275 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman sekitar 58 kilometer. “Gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas subduksi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ujarnya. Getaran kuat dirasakan di sejumlah daerah di Sulawesi Utara dan sebagian wilayah timur Indonesia, menyebabkan masyarakat di beberapa daerah pesisir bergegas menuju tempat yang lebih tinggi.
BMKG menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemodelan, gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami dengan tingkat ancaman Waspada di wilayah pesisir Kepulauan Talaud, Kota Bitung, Minahasa Utara bagian selatan, Minahasa bagian selatan, hingga Supiori di Papua. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, menjauhi kawasan pantai, dan menunggu informasi resmi dari BMKG serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga berita ini diturunkan, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas pascagempa untuk memastikan perkembangan potensi tsunami dan kemungkinan gempa susulan. Daryono menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap gempa-gempa kuat di zona subduksi Laut Filipina yang memang berpotensi memicu gelombang tinggi. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan telah mengaktifkan sistem peringatan dini dan jalur evakuasi untuk memastikan keselamatan warga. BMKG menegaskan akan terus memperbarui informasi resmi seiring hasil monitoring terbaru demi menghindari kepanikan dan memastikan kesiapsiagaan masyarakat tetap terjaga.










