Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq mengakui bahwa penanganan sampah laut dan wilayah kepulauan masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah. Hal ini disebabkan oleh luasnya wilayah perairan Indonesia serta tingginya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan penanganan secara efektif. Kondisi tersebut membuat upaya pengelolaan sampah di laut menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan penanganan sampah di daratan.
Dalam keterangannya di Makassar pada Minggu (5/4), Hanif menjelaskan bahwa sampah yang sudah berada di laut sulit untuk ditangani karena keterbatasan metode pengolahan yang tersedia. Ia menyebut bahwa penggunaan insinerator tidak dapat dilakukan secara optimal untuk sampah laut karena kandungan garam yang tinggi. Kandungan tersebut berpotensi menghasilkan senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan saat proses pembakaran, sehingga menimbulkan risiko pencemaran yang lebih besar. “Kalau sudah di laut, ini urusannya jadi mahal dan tidak karu-karuan,” ujarnya.
Menurut Hanif, sumber utama dari permasalahan sampah laut sebenarnya berasal dari daratan. Sampah yang tidak terkelola dengan baik di darat akan terbawa aliran air hingga akhirnya bermuara ke laut. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan sampah laut tidak dapat dipisahkan dari sistem pengelolaan sampah di wilayah daratan yang masih belum optimal. Oleh karena itu, perbaikan sistem pengelolaan sampah dari hulu menjadi kunci utama dalam mengurangi pencemaran laut.
Secara nasional, tingkat pengelolaan sampah di Indonesia masih tergolong rendah. Hanif mengungkapkan bahwa saat ini baru sekitar 25 persen sampah yang berhasil diolah. Sementara itu, sekitar 60 persen sampah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Artinya, masih terdapat sekitar 40 persen sampah yang tidak tertangani dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan, termasuk terbawa hingga ke laut.
Pemerintah menilai bahwa peningkatan sistem pengelolaan sampah di daratan menjadi langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah laut secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup penguatan pemilahan sampah sejak dari sumber, peningkatan kapasitas pengolahan, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang terintegrasi, diharapkan permasalahan sampah laut dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang.










