Harimau Bali atau Panthera tigris balica memang telah dinyatakan punah sejak pertengahan abad ke-20, namun keberadaannya tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kolektif masyarakat Bali. Dalam tradisi lisan dan kosmologi lokal, satwa buas ini dikenal dengan sebutan “Sang Mong”, sosok yang bukan sekadar hewan pemangsa, melainkan simbol kekuatan alam dan penjaga keseimbangan pulau. Kisah tentang Sang Mong hidup berdampingan dengan cerita rakyat, mitologi, hingga praktik spiritual masyarakat Bali tempo dulu. Harimau Bali dipercaya menempati posisi penting dalam tatanan alam, menjadi representasi energi liar yang harus dihormati, bukan ditaklukkan. Dalam berbagai cerita turun-temurun, kehadiran Sang Mong sering dikaitkan dengan wilayah hutan lebat, pegunungan, dan kawasan yang dianggap sakral, tempat manusia diingatkan akan batas antara dunia budaya dan dunia alam.
Secara ilmiah, Harimau Bali merupakan subspesies harimau terkecil di dunia, dengan ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan kerabatnya di Sumatra atau Jawa. Habitat alaminya mencakup hutan-hutan tropis, semak belukar, dan wilayah pegunungan Bali bagian barat dan tengah. Namun, bagi masyarakat Bali masa lalu, Sang Mong tidak dipahami semata sebagai spesies biologis. Ia hadir sebagai makhluk simbolik yang mencerminkan keseimbangan antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia tak kasatmata). Dalam pemahaman ini, harimau bukanlah ancaman yang harus dibasmi, melainkan penjaga alam yang keberadaannya mengingatkan manusia agar hidup selaras dengan lingkungan. Hilangnya Sang Mong kemudian dimaknai bukan hanya sebagai kepunahan satwa, tetapi juga sebagai terganggunya harmoni antara manusia dan alam Bali.
Punahnya Harimau Bali tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah faktor berkontribusi terhadap lenyapnya Sang Mong dari bentang alam Bali. Perburuan intensif pada masa kolonial menjadi salah satu penyebab utama, di mana harimau diburu sebagai trofi dan dianggap sebagai ancaman bagi keselamatan manusia serta ternak. Selain itu, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman secara drastis mempersempit habitat alami harimau. Fragmentasi ekosistem membuat populasi Sang Mong semakin terisolasi dan rentan. Seiring waktu, konflik antara manusia dan satwa meningkat, dan tanpa adanya upaya konservasi yang memadai, Harimau Bali akhirnya menghilang. Catatan terakhir mengenai keberadaan harimau ini umumnya merujuk pada dekade 1930-an, setelah itu Sang Mong hanya tersisa dalam arsip, foto lama, dan cerita rakyat.
Meski secara fisik telah punah, jejak Sang Mong tetap hidup dalam ekspresi budaya Bali. Motif harimau masih dapat ditemukan dalam seni ukir, topeng, dan ornamen tradisional yang melambangkan kekuatan pelindung. Dalam beberapa tafsir budaya, Sang Mong diposisikan sebagai manifestasi energi penjaga wilayah, mirip dengan konsep bhuta kala yang harus diseimbangkan, bukan dimusnahkan. Kisah-kisah tentang harimau yang mampu berubah wujud, menjaga hutan, atau memberi peringatan kepada manusia masih diceritakan sebagai bagian dari pendidikan nilai kepada generasi muda. Dengan cara ini, Sang Mong tetap hadir sebagai pengingat akan pentingnya rasa hormat terhadap alam dan kesadaran bahwa eksploitasi berlebihan membawa konsekuensi jangka panjang.
Kepunahan Harimau Bali kini sering dijadikan refleksi penting dalam diskursus konservasi dan lingkungan. Sang Mong menjadi simbol kehilangan yang tidak dapat dipulihkan, sekaligus peringatan tentang dampak nyata aktivitas manusia terhadap ekosistem. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pelestarian alam, kisah Harimau Bali mendorong munculnya pertanyaan mendasar: bagaimana menjaga agar tragedi serupa tidak terulang pada spesies lain? Bagi Bali, Sang Mong bukan hanya bagian dari sejarah alam, tetapi juga cermin perjalanan peradaban manusia di pulau ini. Ia mengajarkan bahwa keseimbangan tidak dapat dipaksakan, melainkan harus dijaga dengan kesadaran, kearifan, dan tanggung jawab lintas generasi. Meski kini hanya tinggal cerita, Sang Mong tetap hidup sebagai simbol kuat bahwa alam memiliki batas, dan ketika batas itu dilampaui, kehilangan menjadi harga yang harus dibayar selamanya.










