Pembangunan jalan pintas (shortcut) Singaraja–Mengwitani titik 9–10 yang berlokasi di Desa Gitgit, Kabupaten Buleleng, resmi dimulai sebagai bagian dari upaya strategis Pemerintah Provinsi Bali memperkuat konektivitas wilayah Bali Utara dan Bali Selatan. Proyek infrastruktur ini didanai melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan nilai anggaran lebih dari Rp660 miliar. Shortcut ini menjadi salah satu ruas krusial dalam jaringan jalan alternatif yang selama ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh Denpasar–Singaraja sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan perjalanan. Selama bertahun-tahun, jalur Denpasar–Singaraja dikenal memiliki kontur berliku dan rawan kecelakaan, sehingga pembangunan shortcut dipandang sebagai solusi jangka panjang untuk memperbaiki aksesibilitas antarwilayah di Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pembangunan shortcut Mengwitani–Singaraja tidak hanya ditujukan untuk mempercepat mobilitas masyarakat, tetapi juga sebagai fondasi pemerataan pembangunan antara Bali Selatan dan Bali Utara. Koster menyampaikan bahwa proyek titik 9–10 di Desa Gitgit merupakan bagian dari rangkaian shortcut yang direncanakan secara bertahap dan terintegrasi. Pemerintah Provinsi Bali menargetkan seluruh ruas shortcut Singaraja–Mengwitani dapat diselesaikan secara menyeluruh pada 2030. Target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kesiapan anggaran, kondisi geografis, serta keberlanjutan pembangunan agar setiap ruas yang dibangun benar-benar berfungsi optimal. Menurut Koster, konektivitas yang lebih baik akan membuka akses ekonomi baru, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan wilayah Bali Utara yang selama ini dinilai belum berkembang sepesat kawasan selatan.
Selain pembangunan fisik jalan, Gubernur Koster juga mengaitkan proyek shortcut ini dengan pengembangan transportasi publik ramah lingkungan. Salah satu rencana strategis yang disiapkan adalah pengoperasian layanan bus listrik rute Denpasar–Singaraja. Kehadiran shortcut diharapkan menjadi tulang punggung kelancaran layanan bus listrik tersebut, mengingat jalur yang lebih lurus dan aman sangat dibutuhkan untuk transportasi massal berjadwal. Koster menilai pengembangan bus listrik tidak hanya menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat, tetapi juga sejalan dengan komitmen Bali dalam mengurangi emisi karbon dan mendorong penggunaan energi bersih. Dengan tersedianya akses jalan yang lebih baik, layanan bus listrik Denpasar–Singaraja diharapkan menjadi alternatif transportasi yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Pemerintah Provinsi Bali menilai proyek shortcut Mengwitani–Singaraja memiliki dampak strategis bagi pengembangan ekonomi Bali Utara, khususnya Kabupaten Buleleng. Akses yang lebih cepat dan aman diyakini akan meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke kawasan Bali Utara yang memiliki potensi besar di sektor pariwisata alam, budaya, dan bahari. Selain itu, pelaku usaha lokal diharapkan mendapat manfaat langsung dari meningkatnya mobilitas orang dan barang. Pemerintah daerah juga memandang pembangunan shortcut sebagai pemicu tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, termasuk kawasan perdagangan, jasa, dan logistik yang terhubung langsung dengan Bali Selatan. Dalam jangka panjang, konektivitas yang lebih baik diharapkan mampu menekan kesenjangan pembangunan antardaerah dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh Bali.
Koster menegaskan bahwa pembangunan shortcut dan pengembangan bus listrik akan terus dikawal agar berjalan sesuai perencanaan dan prinsip keberlanjutan. Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen memastikan proyek ini tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten, instansi teknis, serta masyarakat setempat terus dilakukan untuk meminimalkan dampak sosial dan lingkungan selama proses pembangunan. Dengan dimulainya pembangunan shortcut titik 9–10 di Desa Gitgit, pemerintah optimistis konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan akan semakin kuat, membuka peluang investasi baru, serta mendukung transformasi sistem transportasi Bali menuju arah yang lebih hijau dan berkelanjutan. Proyek ini sekaligus menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam menjadikan infrastruktur sebagai penggerak utama pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali secara menyeluruh.










