Pengangguran di Bali Terus Menurun, Namun Puluhan Ribu Warga Masih Mencari Pekerjaan

banner 468x60

Di balik capaian positif penurunan angka pengangguran di Bali, masih terdapat tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Hingga Agustus 2025, tercatat sebanyak 40,99 ribu orang di Bali belum memperoleh pekerjaan. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun kondisi pasar tenaga kerja di Pulau Dewata terus membaik, masih ada puluhan ribu penduduk usia kerja yang menghadapi kesulitan dalam memasuki dunia kerja. Dari total sekitar 3,55 juta penduduk usia kerja di Bali, sebanyak 2,70 juta orang telah terserap dalam berbagai sektor pekerjaan. Angka ini mencerminkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan pemulihan ekonomi daerah yang semakin stabil pascapandemi. Penurunan jumlah pengangguran ini turut menjadi indikator membaiknya aktivitas ekonomi, khususnya di sektor-sektor utama yang selama ini menjadi penopang perekonomian Bali.

Secara persentase, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali kini berada pada angka 1,49 persen, menjadikannya yang terendah di antara seluruh provinsi di Indonesia. Capaian tersebut dinilai sebagai prestasi tersendiri bagi Bali, mengingat karakter perekonomian daerah ini sangat bergantung pada sektor pariwisata yang sempat terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Rendahnya TPT menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja telah terserap, baik di sektor formal maupun informal. Pemerintah daerah menilai keberhasilan ini tidak lepas dari kembalinya aktivitas pariwisata, meningkatnya kunjungan wisatawan, serta tumbuhnya sektor pendukung seperti transportasi, akomodasi, kuliner, dan ekonomi kreatif. Selain itu, geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga berperan penting dalam membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Meski demikian, rendahnya angka pengangguran secara statistik tidak serta-merta menggambarkan kondisi ideal bagi seluruh pencari kerja.

Di balik angka yang terlihat menggembirakan, masih terdapat kelompok masyarakat yang belum merasakan dampak pemulihan ekonomi secara optimal. Puluhan ribu warga yang belum bekerja mencerminkan adanya kesenjangan antara kebutuhan pasar tenaga kerja dan kompetensi pencari kerja. Sebagian penganggur berasal dari kelompok usia muda dan lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja memadai, sementara sebagian lainnya merupakan pekerja yang terdampak pergeseran kebutuhan industri. Perubahan pola kerja, meningkatnya digitalisasi, serta tuntutan keterampilan baru membuat tidak semua pencari kerja dapat langsung terserap. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha yang terus berkembang.

Pemerintah daerah menyadari bahwa upaya menurunkan angka pengangguran tidak dapat berhenti pada pencapaian statistik semata. Program peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, dan penguatan keterampilan berbasis kebutuhan industri menjadi langkah yang terus didorong. Selain itu, diversifikasi ekonomi di luar sektor pariwisata juga dipandang penting untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan berkelanjutan. Ketergantungan yang tinggi pada pariwisata membuat pasar tenaga kerja Bali rentan terhadap guncangan eksternal, seperti krisis global atau bencana alam. Oleh karena itu, pengembangan sektor lain seperti industri kreatif, pertanian modern, teknologi informasi, dan jasa profesional mulai diarahkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.

Meski Tingkat Pengangguran Terbuka Bali berada pada posisi terendah secara nasional, perjuangan mencari pekerjaan belum sepenuhnya usai bagi sebagian masyarakat. Bagi mereka yang masih menganggur, tantangan utama tidak hanya terletak pada jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga pada akses terhadap informasi pekerjaan, peningkatan keterampilan, serta kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri. Pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi benar-benar inklusif dan merata. Dengan demikian, penurunan pengangguran tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan secara nyata oleh masyarakat Bali melalui peningkatan kesejahteraan dan kesempatan kerja yang adil. Capaian positif ini menjadi pijakan penting, namun sekaligus pengingat bahwa upaya menciptakan pasar kerja yang sehat dan berkelanjutan masih memerlukan kerja keras dan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *